Sabtu, 27 April 2013

Apa yang Lebih Penting daripada Parenting Skills?

Coba tebak, apa yang lebih penting daripada keterampilan pengasuhan (parenting skills)? Gordon Neufeld, Ph.D, seorang psikolog perkembangan yang berpengalaman menggeluti dunia anak-anak dan remaja selama lebih dari 40 tahun, mengatakan bahwa relasi kelekatan (attachment relationship) anak dengan orangtuanya adalah hal yang lebih penting daripada semua parenting skills. Tak ada parenting skills di dunia ini yang mampu menyelesaikan dan mengatasi problem yang muncul dari kurangnya relasi kelekatan anak-orangtua.
"Rahasia parenting tidak terletak pada apa yang dilakukan orangtua, melainkan siapakah orangtua di mata anak. Apabila anak kita mencari kontak dan kedekatan dengan kita, maka saat itu, peran kita sebagai seorang pengasuh, pengayom, pembimbing, teladan (model), guru, atau pelatih, sedang diperkokoh dan diperkuat. Bagi seorang anak yang mempunyai kelekatan baik dengan kita, kita adalah tempat berlabuh dalam petualangan mereka di dunia ini, tempat ke mana mereka akan kembali, dan sumber segala inspirasi. Semua parenting skill di dunia ini tak mampu mengkompensasikan kekurangan pada relasi kelekatan."


Berikut adalah cuplikan asli dari buku "Hold On to Your Kids : Why Parents Need to Matter More Than Peers," karangan Gordon Neufeld, Ph.D dan Gabor Mate, M.D., yang diterbitkan Ballantine Books, tahun 2006.
"The secret of parenting is not in what a parent does but rather who the parent is to a child. When a child seeks contact and closeness with us, we become empowered as a nurturer, a comforter, a guide, a model, a teacher, or a coach. For a child well attached to us, we are her home base from which to venture into the world, her retreat to fall back to, her fountain head of inspiration. All the parenting skills in the world cannot compensate for a lack of attachment relationship." (page 6)

Kamis, 25 April 2013

Jangan Cemaskan Kemandirian Anak

Tidak sedikit ibu rumah tangga yang cemas ketika melihat bahwa anaknya cengeng dan sulit berpisah dari ibu saat anak-anak ini mulai masuk sekolah. Kenapa anak-anak kita ini tampak lebih manja dibandingkan dengan anak-anak lain? Apa benar ini salah kita, yaitu gara-gara kesehariannya kita selalu ada di samping anak dan selalu siap menolongnya, sehingga anak kita menjadi lebih manja dan tergantung pada kita, ibunya? Kalau diamati, mengapa justru anak-anak yang ibunya full-time di rumah ini, tampak sebagai anak 'sulit'?
Sulitnya anak berpisah dari ibu, memang tak lain disebabkan karena selama ini, ibu menghabiskan waktu paling banyak bersama anak dan dengan demikian ibu menjadi figur lekat anak. Anak merasa paling nyaman berada bersama ibunya, dan ini sama sekali tidak salah, karena anak berarti sudah mengembangkan apa yang disebut secure attachment. Secure attachment ditandai dengan kecenderungan anak untuk mencari dan mendekat pada figur lekatnya ketika ia merasa tidak aman atau ketakutan.
Anak-anak yang mengembangkan kelekatan dengan ibunya, kurang percaya pada orang lain yang asing. Akan tetapi, kondisi ini tidak berlangsung lama. Anak yang telah berhasil mengembangkan secure attachment, hanya pada waktu awal-awal saja merasa tidak nyaman. Ia mempunyai landasan rasa aman yang kuat dalam dirinya, sehingga, dengan sejenak beradaptasi - yaitu melihat dan menilai kondisi lingkungan barunya, ia pun akan segera merasa aman dalam lingkungan baru tersebut.
Lantas, apakah anak-anak ini di kemudian hari akan tetap menjadi anak yang kurang mandiri, khususnya dibandingkan dengan anak-anak yang ibunya bekerja? Beberapa penelitian mengungkap bahwa efek positif dari berkarirnya ibu di luar rumah adalah kemandirian anak. Tentu saja ini benar. Anak-anak yang ibunya bekerja memang lebih mandiri. Mereka lebih cepat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Tapi, kita perlu cermati apa yang ada di balik kemandirian mereka. Mengapa mereka mandiri? Jawabannya adalah karena sehari-hari mereka sudah terbiasa dengan keadaan sendiri dan tidak menemukan orang yang selalu dapat diandalkan untuk menolongnya, sehingga mereka pun belajar mengandalkan dirinya sendiri. Jadi, bukankah kondisi tersebut sebenarnya adalah kondisi 'terpaksa'? Mereka mencoba-coba memenuhi kebutuhannya sendiri karena tak ada orang lain yang bisa dimintai tolong setiap saat. Dengan kata lain, apa yang ada di balik kemandirian ini adalah rasa tidak percaya pada orang lain, rasa tidak percaya bahwa orang lain bisa diharapkan untuk menolong atau bisa menjadi tempat bergantung saat dirinya membutuhkan.
Saya adalah anak yang dibesarkan oleh seorang ibu rumah tangga full-time. Mengenai kekurangmandirian saya, saya memang mengakuinya. Akan tetapi, saya telah membuktikan bahwa kemandirian bisa terbentuk dalam waktu yang singkat. Begitu saya menikah, saya dilepas oleh ibu saya. Pertama, saya akui memang berat. Saya harus mulai mengurus urusan rumah tangga sendiri dan juga merawat anak sendiri. Saya yang selama tinggal serumah dengan ibu saya hampir tak pernah mencuci pakaian, menyetrika, masak, bersih-bersih, kini harus mengerjakan tugas-tugas itu sendiri. Anehnya, keadaan terpaksa ini, nyatanya berhasil membuat saya mampu mengerjakan tugas-tugas itu! Jadi, dalam hitungan 1-2 tahun pernikahan, saya sudah terbiasa melakukan tugas-tugas itu secara mandiri. Yang ingin saya katakan di sini adalah, jangan kita berkecil hati saat melihat anak kita tampak tidak mandiri. Yakinlah bahwa kemandirian itu bisa dibentuk dalam waktu singkat. Ketika anak tumbuh dewasa, dan makin mampu secara fisik, ia pasti mampu menjadi mandiri. Yang dibutuhkannya hanyalah kemauan (dan keadaan terpaksa, hehehe). Membentuk kemandirian jauh lebih mudah daripada meletakkan dasar rasa aman dan percaya terhadap orang lain.
Yang perlu diperhatikan hanyalah kita berusaha agar anak belajar menguasai berbagai keterampilan, termasuk keterampilan bantu diri, dengan tujuan supaya mereka mengembangkan perasaan mampu. Jangan selalu turuti permintaan anak jika kita tahu bahwa mereka bisa melakukannya sendiri. Beri mereka kepercayaan dan dukung mereka semakin terampil, dan demikian, mereka merasa mampu, sehingga ketika berada bersama teman-teman atau menerima tuntutan tugas, mereka juga lebih percaya diri.

Selasa, 23 April 2013

Mengapa Ibu Lebih Baik?

Siapakah orang yang paling baik mengasuh dan merawat anak? Saya jawab, "ibunya." Saya punya beberapa alasan di balik pemikiran saya bahwa ibu adalah figur yang paling tepat untuk mengasuh anak pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Kali ini saya tidak menjamin bahwa apa yang saya tulis di sini bersifat ilmiah (terbukti melalui hasil penelitian), saya hanya menggunakan logika dan hasil observasi saya saja.

Ibu lebih baik daripada nenek, karena :
  • Ibu punya tenaga dan fisik yang lebih baik (prima) daripada nenek. Tenaga ini sangat dibutuhkan ketika merawat anak usia 0 hingga balita, karena anak-anak pada usia ini, sangat bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya (nyaris sama sekali belum mampu mandiri). Tenaga yang prima juga dibutuhkan untuk menemani anak bermain mengeksplorasi lingkungan. Kita semua tahu bahwa anak-anak mempunyai tenaga yang luar biasa, aktif sekali bergerak, dan oleh karena itu, orang yang mengasuhnya, perlu bisa mengimbanginya. 
  • Ibu lebih tegas daripada nenek. Berdasarkan pengamatan saya, nenek lebih cenderung menuruti keinginan cucunya. Faktornya adalah karena nenek lebih berbelas kasih terhadap cucunya, dan juga karena nenek lebih lemah secara fisik daripada ibu, sehingga untuk berkonfrontasi dengan anak, seringkali nenek lebih memilih jalan mudah, yaitu menuruti keinginan anak. 
  • Ibu lebih santai dan lebih kurang dewasa dibanding nenek. Ibu, karena usianya lebih muda, di satu sisi, kurang bijaksana dan kurang pengendalian diri dibandingkan nenek. Akan tetapi, di sisi lain, usia yang muda ini membuat ibu lebih luwes, easygoing, lebih punya selera humor, sehingga lebih mampu bercanda bersama anak. Ibu lebih senang bermain saling gelitik, berguling-guling bersama anak, dan sebagainya. Ibu juga lebih mampu menolerir perilaku anak yang suka mengeksplorasi, memberantakkan mainan, bermain kotor-kotor, dan sebagainya.
  • Ibu mempunyai usia lebih panjang dibandingkan nenek. Anak membutuhkan figur lekat yang bisa mendampinginya selama belasan tahun ke depan. Apabila figur lekat ini adalah ibunya, maka asumsinya, anak akan bisa lebih lama didampingi oleh figur lekatnya.  
  • Ibu lebih sering mendekap anak, mencium anak, memberikan sentuhan fisik. Selain karena ibu menyusui anak, ibu juga secara natural lebih sering memeluk dan mencium anak, memberikan kehangatan secara fisik. 

Ibu lebih baik daripada babysitter atau pembantu, alasannya adalah karena babysitter/pembantu adalah seorang upahan, yang merawat anak dengan tujuan mendapat upah. Tentu saja ia tidak bisa dituntut untuk mengasihi anak dengan tulus, kita hanya bisa menuntut dia untuk memenuhi kebutuhan anak saja. Selain itu, pembantu/babysitter kurang mampu bersikap tegas dalam mengarahkan anak, karena ia merasa tidak punya wewenang penuh atas anak asuhnya. Belum lagi hal-hal negatif yang timbul seandainya dia (pembantu/babysitter) melakukan hal-hal berikut :
  • Senang menggunakan ponsel saat memomong anak, atau senang berbincang-bincang dengan rekan sesama pembantu/babysitter di kompleks perumahan, sehingga anak lebih sering dalam keadaan terabaikan, tidak diajak bicara, tidak diajak bermain.
  • Suka menggunakan kekerasan fisik terhadap anak. 
  • Suka membentak atau tidak mampu mengendalikan kata-katanya saat memarahi anak.

Bagaimanapun, ibu adalah orang yang secara alamiah punya naluri untuk merawat dan mengayomi anak. Ibu bisa memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh seorang upahan, karena ibu melakukan semuanya dengan kasih yang tulus ikhlas tanpa pamrih. Ibu selalu mempunyai tujuan dan harapan agar anaknya menjadi pribadi yang baik, dan karenanya, akan melakukan segala upaya untuk mendidik anaknya seperti yang diharapkannya. 
Anak yang diasuh langsung oleh ibunya, akan lebih patuh terhadap ibunya, karena ia menerima satu peraturan dan satu pola asuh, dan dalam hal ini, peraturan dan pola asuh dari ibunya menjadi dominan. Anak yang diasuh ibunya, umumnya juga lebih mempunyai konsep diri positif dan harga diri, karena ia banyak menerima ekspresi kasih sayang dari ibunya, lebih sering diajak tersenyum, dicium, dipeluk, diajak bermain.

Steve Biddulph mengatakan, "Ibu adalah orang yang paling diperlengkapi untuk memberikan apa-apa yang diperlukan seorang bayi. Ia juga merupakan orang yang paling bersedia dan termotivasi dalam mendekati anaknya, memberikan perhatian penuh kepada anak." Jadi, bagaimanapun juga, ibu adalah yang TERBAIK untuk anaknya. 

Minggu, 21 April 2013

WAKTU : Kualitas atau Kuantitas?

Terkait soal pengasuhan, yang sering dibahas psikologi adalah memberikan waktu secara berkualitas untuk anak. Kemudian, dari sini, berkembang anggapan dalam masyarakat, bahwa waktu yang jumlahnya sedikit namun berkualitas, bisa memenuhi kebutuhan anak, atau dengan kata lain, karena yang penting adalah kualitas, maka kuantitasnya seberapa pun tidak jadi soal. Selain itu, cukup banyak pula psikolog yang meyakinkan para ibu pekerja, bahwa masalah tidak akan timbul asalkan mereka meluangkan waktu secara berkualitas sepulang dari kerja. Di sini, saya ingin memperjelas topik ini, karena saya pun pernah mendapat pertanyaan terkait hal ini.
Anak memang membutuhkan 'waktu yang berkualitas', dalam arti, waktu yang dihabiskan bersama orangtuanya dengan interaksi yang berkualitas. Tidak sekedar berada di tempat yang sama dengan orangtuanya, tapi juga berinteraksi, berkomunikasi (verbal dan nonverbal), bertukar emosi dengan orangtua. Anak sangat bahagia ketika ia diajak bicara, diajak bercanda oleh orangtuanya, dan bermain bersama orangtuanya. Di situ ia merasa disayangi, dan merasa diperlakukan sebagai individu yang berharga di mata orangtuanya.
Tapi, permasalahannya, apakah waktu berkualitas yang sedikit jumlahnya, cukup bagi anak? Waktu berkualitas yang sedikit jumlahnya, memang mampu membuat anak bahagia saat itu, akan tetapi, bagaimana dengan saat-saat di luar 'waktu berkualitas' tersebut, yang jumlahnya justru lebih banyak? Apakah pada saat itu kebutuhan anak terpenuhi, dan anak juga menerima perlakuan yang baik?
Saya yakin, semua pasti setuju, bahwa kita makan sehari tiga kali, dan ini tidak bisa digantikan dengan makan sekali saja tapi dengan 3 porsi. Entah tepat atau tidak, tapi saya mengasosiasikan waktu berkualitas ini seperti halnya soal makan. Anak mempunyai kebutuhan sepanjang hari, dan ia butuh dipenuhi kebutuhannya pada saat-saat tersebut. Tidak bisa kalau kebutuhannya ini ditunda. Saat ia lapar, harus segera diberi makan; saat ia mengantuk, harus segera dininabobokkan; saat ia bad mood, harus segera dipeluk, digendong atau dihibur; saat ia basah, harus segera diganti pakaiannya; saat ia kotor, harus segera dibersihkan; saat ia mengalami kecelakaan, harus segera ditolong; saat ia kedinginan, harus segera dihangatkan, dan lain sebagainya. Pengasuhan anak tidak sama dengan tugas pekerjaan yang bisa dilembur. 
Dalam dunia psikologi perkembangan anak, dikenal istilah secure attachment. Sangat amat diharapkan bahwa pada masa-masa awal kehidupan anak, terbentuk secure attachment. Secure attachment ini adalah rasa aman dan kepercayaan yang dirasakan anak terhadap objek lekatnya (pengasuh). Secure attachment ini kelak berpengaruh besar pada kemampuan anak membentuk relasi intim dengan orang lain (intimacy). Nah, bahan dasar terbentuknya secure attachment ini adalah pengalaman dipenuhinya kebutuhan anak oleh figur pengasuhnya. Jadi, anak yang dipenuhi kebutuhannya oleh seorang pengasuh yang sensitif dan responsif, akan berhasil mengembangkan secure attachment. Kalau demikian, mampukah waktu berkualitas yang sedikit jumlahnya menghasilkan secure attachment? Tentu saja tidak. Secure attachment tidak terbentuk dalam waktu yang singkat. Secure attachment terbentuk dari proses, dari waktu anak bangun tidur, sampai ia bangun lagi di hari berikutnya, 24 jam sehari selama tahun-tahun pertama kehidupan anak.
Hampir serupa dengan itu, begitu pula konsep diri dan harga diri anak. Pembentukan konsep diri anak adalah sebuah proses, yaitu bagaimana anak diperlakukan setiap saat, dan bukannya bagaimana anak diperlakukan beberapa jam tiap harinya. Anak yang tiap malam dicium-cium dan dipeluk-peluk, namun ketika siang hari diabaikan, bahkan dimarah-marahi dan dibentak-bentak, tentu saja tidak mengembangkan konsep diri positif semaksimal anak yang setiap harinya pagi-siang-sore-malam diperlakukan penuh kasih.  
Berikutnya, kedalaman relasi ibu-anak. Agar anak bisa mempunyai relasi yang dekat dengan ibu, anak butuh mengalami kebersamaan dengan ibu, interaksi yang berkualitas, dan lagi-lagi, ini juga membutuhkan jumlah waktu yang banyak pula. Kita dekat dengan seseorang, itu hasil dari sebuah proses, yaitu kebiasaan kita bersama dengan orang tersebut. Semakin sering kita bersama orang tersebut, semakin banyak interaksi yang terjadi dan semakin baik kita mengenal orang tersebut. Kita bisa menengok, dengan siapakah kita paling dekat. Pasti orang tersebut adalah orang yang dengannya kita sering bersama. Kita yang sehari-hari bersama anak kita, bisa membandingkan bagaimana relasi anak kita dengan kita (ibunya), dan bagaimana relasi anak dengan ayahnya. Mengapa anak kita lebih dekat pada kita daripada kepada ayahnya? Jawabannya tak lain adalah karena kita lah yang lebih banyak menghabiskan waktu dengannya.
Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa anak yang menghabiskan waktu beberapa jam saja bersama ibunya (karena ditinggal ibunya bekerja) akan gagal membentuk secure attachment ataupun gagal membentuk konsep diri yang positif. Tidak berarti demikian. Dalam kasus ibu hanya bisa menghabiskan waktu beberapa jam saja bersama anak, perkembangan anak menjadi tergantung juga pada sosok pengasuh yang menggantikan ibu selama ibu tidak berada bersama anak. Apabila pengasuh tersebut mampu memenuhi kebutuhan anak, dan memperlakukan anak dengan baik, maka anak pun bisa membentuk secure attachment dan konsep diri positif. Ibu harus memahami bahwa kunci perkembangan anak tidak lagi terletak pada dirinya saja. Jadi, dalam hal ini, tugas ibu adalah memastikan bahwa ketika orang lain menggantikan dirinya mengasuh anak, orang tersebut adalah seorang yang mampu mengayomi anak dengan baik. 

Sabtu, 30 Maret 2013

Ibu Rumah Tangga Lebih Depresi?

Yah, satu lagi berita yang menambah buruk citra peran ibu rumah tangga adalah hasil penelitian yang mengungkap bahwa ibu rumah tangga lebih sering mengalami depresi daripada ibu bekerja. Benarkah ini?
Hasil penelitian memang tidak berkata bohong. Akan tetapi, dalam membaca berita-berita tentang hasil penelitian, kita harus cermat. Begitu pula saat kita membaca hasil penelitian yang menyebutkan bahwa ibu rumah tangga lebih cenderung mengalami emosi negatif dibandingkan ibu pekerja. Yang perlu diperhatikan, di antaranya adalah :

Apakah kita telah membaca berbagai hasil penelitian, ataukah hasil penelitian yang kita baca di media-media itu sebenarnya adalah hasil dari satu penelitian saja? Sebagai contoh, saya sebutkan bahwa hasil penelitian yang mendapatkan hasil bahwa ibu rumah tangga lebih depresi dibanding ibu bekerja diliput dalam situs-situs berikut:

  • http://nusaresearch.net/public/news/92-Ibu_Rumah_Tangga_Lebih_Depresi_Daripada_Wanita_Bekerja,_Benarkah?.nsrs
  • http://wolipop.detik.com/read/2013/01/29/121819/2155074/857/ibu-rumah-tangga-lebih-depresi-daripada-wanita-bekerja-benarkah
  • http://health.liputan6.com/read/404406/studi-ibu-rumah-tangga-cenderung-mudah-depresi
  • http://life.viva.co.id/news/read/316215-stress-mana--menjadi-ibu-atau-wanita-karir-

Ternyata, dari keempat berita di atas, semuanya bersumber dari satu buah penelitian yang sama. Anda bisa coba mengeceknya.

Bagaimana dengan subjeknya? Siapakah ibu-ibu yang diteliti tersebut? Apakah mereka adalah ibu dengan anak yang masih kecil, atau ibu dengan anak yang sudah besar? Umumnya, penelitian yang membandingkan kondisi psikologis antara ibu rumah tangga dengan ibu bekerja dikenakan pada ibu-ibu yang baru saja melahirkan dan ibu-ibu yang anaknya masih berusia balita. Berikut adalah hasil penelitian yang diulas dalam
http://health.kompas.com/read/2011/12/14/18174228/Ibu.Rumah.Tangga.Lebih.Mudah.Depresi

Para peneliti dari University of North Carolina menganalisis 1.364  ibu yang baru melahirkan, dan mengikuti perkembangan dalam keluarga tersebut dalam waktu 10 tahun terakhir. Penemuan ini dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology yang diterbitkan oleh American Psychological Association.Dalam kasus kesejahteraan, ibu bekerja memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan, dan gejala depresi yang lebih rendah dibanding ibu rumah tangga. 


Bukankah kita semua tahu, bahwa kondisi emosi negatif, termasuk depresi, wajar sekali jika dialami oleh ibu yang mengasuh anak berusia balita. Faktor pertama adalah karena saat itu ibu baru mengalami masa penyesuaian, pergantian dari peran sebagai pekerja menjadi peran sebagai pengasuh anak. Faktor kedua, anak balita (termasuk bayi), memang lebih menyita tenaga saat kita merawat mereka. Tidak hanya karena mereka belum bisa apa-apa sehingga membutuhkan bantuan kita nyaris 100 persen dalam memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga karena kita harus lebih waspada menjaga mereka dari bahaya. Kita sebagai pengasuhnya, baru bisa beristirahat manakala mereka tertidur. Beda sekali dengan keadaan jika anak kita sudah besar, di mana mereka sudah bersekolah dan sudah lebih mandiri. Saat itu, kita lebih punya waktu untuk diri sendiri. Jadi, bisakah kita membayangkan bagaimana hasilnya jika penelitian dilakukan pada ibu-ibu yang anaknya sudah berusia lebih besar? Saya justru yakin, hasil penelitian akan berbalik. Bukankah ibu rumah tangga baru menikmati hasil jerih payahnya ketika anak sudah besar? Tidakkah saat itu ibu rumah tangga merasa lebih bahagia melihat anak-anaknya yang berkepribadian baik, hasil didikannya?
Di sini, yang ingin saya katakan sebetulnya adalah, bahwa kita tidak perlu jadi merasa malang mendengar berita-berita tersebut. Kita harus kritis membaca berita-berita tersebut. Dan yang tak kalah penting, kita harus menyadari, bahwa bagaimana pun juga, berita kadang bermuatan politik, dalam arti, orang yang menggembar-gemborkan berita tersebut kadangkala mempunyai tujuan yang subjektif, misalnya saja sekelompok kaum pengusung feminisme, yang ingin agar lebih banyak wanita memilih karir. Oya, bukankah yang lebih keras suaranya di media adalah wanita-wanita karir (psikolog, dokter)? Saya rasa, ibu rumah tangga nyaris tak terdengar suaranya, karena mereka terlalu sibuk mengurus anak di rumah, dan juga karena mereka bukan 'orang-orang penting' yang dekat dengan media.

Selasa, 19 Maret 2013

Ketika Suami Beda Keyakinan

Betapa beruntung apabila kita menjalani peran ibu rumah tangga dengan didukung sepenuhnya oleh suami, dalam arti suami memang menghendaki kita di rumah full-time mengurus anak, sementara dia yang fokus mencari nafkah. Akan tetapi, banyak juga ternyata di antara kita yang justru kurang didukung oleh suami. Kita berbeda pendapat dengan suami, sementara kita meyakini bahwa yang terbaik adalah diri kita mengasuh anak di rumah dan tidak bekerja di luar, suami justru menginginkan kita juga membantu dia mencari nafkah dengan bekerja di luar.
Saya sendiri mengalami hal ini. Saya memang sudah keluar dari tempat saya bekerja sejak hamil muda, karena takut risiko terjadi masalah dengan janin saya apabila saya pergi-pulang naik sepeda motor untuk jarak yang cukup jauh. Memutuskan berhenti kerja ini mudah-mudah saja, karena kebetulan gaji saya waktu itu tidak begitu besar, dan juga karena suami sendiri paham dengan risiko naik sepeda motor yang bisa mengancam keselamatan janin. Dengan demikian, saya sudah berstatus tidak bekerja, ketika anak saya lahir. Sesudah anak saya lahir, saya memang tidak punya keinginan untuk mencari pekerjaan lagi karena tidak rela meninggalkan anak saya dalam asuhan orang lain. Masalah muncul ketika suami saya mulai merasa pendapatan keluarga kami tidak cukup. Waktu itu (tahun 2009), gaji suami saya 2,7 juta, dan tidak ada tunjangan dokter atau rumah sakit, atau tunjangan apapun lainnya. Tapi karena saya keras kepala, saya hanya diam saja mendengar keluhan suami saya. Saya berusaha meyakinkan dia bahwa gaji sebesar itu masih cukup untuk hidup. Mungkin saya memang beruntung, karena saya tinggal dekat dengan orangtua saya, sehingga sering diberi lauk oleh ibu saya, dan saya masih bisa meminjam uang ketika uang sudah habis. Jadi, saat itu memang tiap bulan kami 'gali lubang tutup lubang.' Saya pun berusaha menghemat pengeluaran. Sabun mandi saya pilih yang paling murah. Barang-barang yang tidak perlu, tidak saya beli. Saya tidak beli pakaian, tas, sepatu. Sebenarnya memang kebetulan saya tidak suka fashion (hehehe). Barang yang paling saya suka adalah buku dan CD musik atau DVD film, tapi ini pun tidak saya beli lagi sama sekali. Jajan juga saya kurangi. Yang tadinya saya tidak biasa memasak, kemudian perlahan-lahan saya tambah sering memasak. Urusan anak, saya memberinya ASI eksklusif, sehingga tidak perlu ada biaya untuk susu formula. Saya juga tidak mengenakan popok sekali pakai pada anak saya tiap malam (saya pilih bangun beberapa kali malam hari untuk mengganti popok), hanya pada saat saya tidak enak badan saja saya pakaikan popok sekali pakai itu, dan juga pada saat harus membawa anak saya pergi keluar. Pada awalnya, saya memang sering mengambil uang di tabungan, hingga jumlah uang tabungan saya menjadi semakin sedikit. Akan tetapi, proses penghematan itu lama-lama semakin mulus. Saya pun lama-lama jadi terbiasa semakin bergaya hidup hemat.
Sebenarnya ketika anak saya berumur 4 bulan-an, saya tidak sengaja bertemu dengan dosen saya, dan ditawari sebuah pekerjaan (sebagai guru bimbingan konseling) di sebuah sekolah favorit bergengsi. Tawaran itu sempat datang lagi ketika anak saya berumur 1 tahun-an. Akan tetapi, saya langsung menolaknya, dengan alasan tidak bisa meninggalkan anak saya. Waktu itu bahkan saya tidak menceritakannya kepada suami saya, karena takut didesak untuk bekerja lagi.
Saya bisa memahami bahwa kerap kali kita sebagai manusia tergiur akan uang. Suami saya sendiri kadangkala juga merasa iri pada temannya yang istrinya punya penghasilan besar dan disayang oleh bosnya. Akan tetapi, saya selalu berpikir bahwa keluarga yang istrinya bekerja, justru sebaliknya juga, merasa iri pada keluarga yang istrinya di rumah full-time mengasuh anak. Jadi, menyikapi hal ini, saya hanya berpikir bahwa memang 'rumput tetangga lebih hijau'. Saya tahu bahwa banyak suami yang justru ingin istrinya di rumah, tidak berkarir di luar. Yah, memang manusia cenderung iri satu sama lain. Saya sendiri, kadang-kadang benar-benar merana tergiur akan uang ketika ingat bahwa saya ingin sekali bisa memberi sesuatu, termasuk juga memberi hadiah ulang tahun untuk orang-orang yang saya cintai, mama saya, adik saya, namun saat ini tidak mampu. Bukannya suami tidak mau membelikan hadiah tersebut, tapi karena memang saya enggan meminta, saya lebih puas kalau saya memberi dari penghasilan saya sendiri. Saya sedih memikirkan bahwa orangtua saya masih harus mencari nafkah sendiri di usia yang sudah menginjak usia lanjut. Ingin sekali saya bisa mencukupi nafkah kedua orangtua saya.
Akan tetapi, keinginan untuk berpenghasilan sendiri itu terkalahkan oleh motivasi saya untuk mendampingi anak saya full-time di rumah. Saya mempunyai keyakinan bahwa anak paling bahagia jika bisa selalu bersama ibunya. Saya sendiri mengalami bagaimana senangnya dengan hadirnya ibu di rumah - ketika masih SD, saya merasa kasihan pada teman saya yang ibunya bekerja di kantor sehingga tidak bisa bertemu ibunya sepulang sekolah. Selain itu, saya juga kebetulan pernah membaca bukunya Steve Chalke tentang Orangtua Karier. Di situ Steve Chalke justru menegaskan bahwa anak mengukur kasih dengan waktu. Tentang kata-kata Steve Chalke ini, saya sudah membuktikannya, yaitu dengan apa yang saya rasakan dan alami terhadap relasi saya dengan ibu saya dan ayah saya. Saya lebih merasa disayangi oleh ibu saya daripada oleh ayah saya, karena ibu saya selalu hadir untuk saya.
Di samping itu, saya tahu bahwa waktu emas untuk mendidik anak adalah sebelum ia terlanjur besar. Saya selalu membayangkan, apa yang terjadi apabila saya menekuni karir namun meninggalkan anak saya. Dalam bayangan saya itu, saya berpikir, mungkin saya jadi sukses, namun apa artinya semua kesuksesan itu apabila saat itu saya memandangi anak saya yang berkepribadian buruk, tidak peduli terhadap saya, dan sudah tidak terkendali. Saya yang berprofesi sebagai psikolog tidak ingin berhasil mengurusi anak orang lain namun gagal mengurusi anak sendiri. Saya juga mengenal benar diri saya, bahwa apabila saya terlanjur berkecimpung di dunia kerja, saya akan konsentrasi luar biasa besar di sana, hingga mengabaikan hal-hal lain, dan tentu saja risikonya, bisa-bisa saya mengabaikan anak saya sendiri.
Ternyata, tantangan tidak berhenti dalam hal finansial saja. Saya yang terbiasa sejak kecil menerima pujian atas prestasi saya, jadi benar-benar haus pengakuan atas kemampuan saya ketika saya hanya di rumah mengurus anak. Tak ada sesuatu hasil kerja yang menunjukkan kemampuan saya. Kemampuan otak saya jadi benar-benar tidak ada buktinya sekarang. Saya pun mulai merasa peka terhadap sikap keluarga suami saya, yang kadang menanyakan tentang praktik psikologi saya. Entah benar atau tidak, kadang saya berpikir mereka ingin saya bekerja dan membantu suami saya menghasilkan uang. Saya rindu saat-saat sekolah dan kuliah dulu, di mana guru dan dosen memandang saya sebagai seorang murid yang pintar. Jadi mulai muncullah rasa minder, yang sebenarnya rasa minder ini berasal dari diri saya sendiri. Sebenarnya, sambil mengurus bayi saya, saya masih membaca buku-buku Psikologi untuk menambah ilmu, sambil terus mengatakan pada diri sendiri bahwa sekarang adalah saatnya menimba ilmu dulu, mengisi diri dengan ilmu, sebelum suatu saat nanti kembali berkecimpung di dunia kerja. Akan tetapi, tetap saja saya merasa haus prestasi. Lagipula, saya ingin menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Beruntung sebelum saya melahirkan, saya sempat membuat blog berisi artikel-artikel psikologi tentang problem perilaku anak dan cara mengatasinya. Saya rajin mengecek jumlah pengunjung blog saya itu, yang ternyata semakin lama, semakin banyak pengunjungnya.Yah, setidaknya, saya jadi merasa masih ada yang dibanggakan, karena ini juga merupakan apresiasi orang lain atas kemampuan saya.
Kita yang sudah menjalani sendiri peran ibu rumah tangga ini, tentu menyadari bahwa ternyata peran ini banyak menuntut kita untuk menjadi rendah hati. Kita tidak hanya berkorban secara fisik (tenaga), tetapi juga berkorban secara emosional, termasuk mengorbankan gengsi dan harga diri kita. Akan tetapi, kalau kita mau refleksikan lagi, bukankah ini adalah jalan yang diberikan Tuhan untuk mengajar kita agar kita lebih bijaksana dalam memandang arti hidup ini. Tuhan menginginkan kita tidak hanya mengukur sebuah kehidupan dengan uang atau popularitas atau gengsi. Kita diajari-Nya menikmati kebaikan hidup yang bukan datang dari materi maupun gengsi. Kita diajari-Nya menikmati keindahan hidup dari kesederhanaan dan kasih sayang. Bukankah dua hal ini lebih abadi sifatnya?

Selasa, 12 Februari 2013

Periode Emas

Kita semua pasti pernah mendengar bahwa usia balita adalah golden age atau golden period, atau periode emas. Ternyata hal ini juga ditegaskan oleh Stanley I. Greenspan. Ia mengatakan bahwa masa kanak-kanak awal ini merupakan masa yang kritis dan rentan dalam perkembangan tiap anak. Dia menjelaskan bahwa dalam tahun-tahun pertama kehidupan anak inilah dasar-dasar dari pertumbuhan intelektual, emosional, dan moral diletakkan. Jika orangtua gagal melakukannya pada periode emas ini, seorang anak masih mungkin untuk mencapainya, akan tetapi, 'harga' yang harus ditebus terlanjur menjadi mahal dan kesempatan suksesnya pun menjadi semakin sedikit atau menurun seiring bertambahnya usia anak. 

Wow, kalau begitu, bukankah dengan menjadi ibu full-time pada masa balita anak kita, yang mengasuh sendiri anak kita di tahun-tahun pertama kehidupannya, itu berarti kita sudah memilih jalan yang paling aman dan hemat ya?

Berikut adalah kutipan asli dari buku Stanley I. Greenspan yang berjudul “The Irreducible Needs of Children : what every child must have to grow, learn, and flourish” karangan Stanley I. Greenspan, M.D. dan T. Berry Brazelton, M.D.

Early childhood is both the most critical and the most vulnerable time in any child's development. Our research, and that of others, demonstrates that in the first few years, the ingredients of intellectual, emotional, and moral growth are laid down. If they are not, it is true that a developing child can still acquire them, but the price rises and the chances of success decrease with each subsequent year. We cannot fail children in these early years.  (h. x).