Jumat, 06 Desember 2013

3 Kebutuhan Dasar Anak

Kasih + Otonomi + Batasan

3 hal di atas adalah kebutuhan dasar yang diperlukan anak agar mengalami perkembangan yang sehat, begitu kata Stanley I. Greenspan.

1. Kasih sayang (nurturance, security and love)
Anak-anak sejak lahir ke dunia (0 bulan) membutuhkan interaksi hangat, pelukan, ciuman, waktu bermain bersama, pemahaman dan empati, yang membuat diri mereka merasa aman, merasa dicintai.

2. Otonomi (autonomy)
Anak-anak merasakan keinginan untuk mempunyai kontrol, keinginan mengekspresikan kebebasannya dan keinginan berinisiatif. Oleh karena itu, orangtua harus menyediakan kesempatan di mana pada saat-saat tertentu, anak bisa merasa dirinya lah yang menjadi 'bos' bukan selalu orangtuanya yang menjadi bos atas dirinya.

3. Batasan (limit-setting)
Anak membutuhkan batasan yang tegas, untuk merasa aman, yaitu mulai usia 8 bulan. Mereka menjadi ketakutan ketika lingkungan tidak memberikan petunjuk mengenai apa yang benar dan apa yang salah dan ketika mereka merasa tidak ada orang yang membatasi agresivitas mereka.

Ketiadaan salah satu kebutuhan dasar ini, atau ketidakseimbangan dalam pemenuhan 3 kebutuhan dasar ini akan berdampak pada terjadinya perseteruan dan perebutan kekuasaan antara orangtua dan anak yang kronis.

Often when one or more of these three factors of nurturance, autonomy, and limit-setting are absent, power struggles result. (Stanley I. Greenspan; First Feelings; p. 157-162).

Minggu, 17 November 2013

Hitung Bulan Perkembangan Emosional

Perkembangan emosional berlangsung secara luar biasa pada 4 tahun pertama kehidupan. 4 tahap awal bahkan hanya berlangsung selama 18 bulan. Berikut akan dibahas 6 tahap perkembangan emosional yang ditemukan oleh Stanley I. Greenspan, M.D.

Tahap pertama (0-3 bulan), bayi belajar untuk menggunakan indera-inderanya, menyesuaikan diri dengan berbagai stimulus yang diterima dari lingkungan (suara, cahaya, sentuhan, bau, rasa) yang diterima dari indera-inderanya, dan kemudian sesudah bisa menyesuaikan diri dan meregulasikan diri, ia pun mulai merasa tertarik dengan dunia barunya, lingkungan sekitarnya. 

Tahap kedua (2-7 bulan), bayi 'jatuh cinta' kepada sosok pengasuh utamanya. Bayi mulai menyukai pengasuhnya, dan dia harus dapat respon timbal-balik yang serupa demi mempertahankan dan mengembangkan kemampuannya mencintai. Pengalaman mencintai dan dicintai melalui attachment dengan figur pengasuh yang diperoleh bayi pada masa ini akan menjadi batu pijakan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar sosialisasi. Pada tahap ini, tugas pengasuh adl membangun interaksi yg positif, memberikan pengasuhan yang sensitif dan responsif.

Tahap ketiga (3-10 bulan), bayi mengembangkan kemampuan komunikasi yang lebih didasari oleh intensinya sendiri, belajar mengambil inisiatif. Pada tahap ini, bayi belajar tentang sebab-akibat, bahwa dia bisa mempengaruhi orang di sekitarnya dengan usaha/tindakannya (tersenyum dalam rangka mengajak ibunya tersenyum, misalnya). Tugas pengasuhnya adalah merespon semaksimal mungkin sinyal-sinyal komunikasi yg disampaikan bayi. Kalau bayi mendapat respon, dia akan menjadi semakin percaya diri, bahwa dengan bertindak secara aktif, dirinya bisa mewujudkan keinginannya, bisa mempengaruhi orang lain, dan bisa meraih kebahagiaannya sendiri. 

Tahap keempat (9-18 bulan), bayi membentuk sense of self yang terorganisir. Dia mulai menyadari keberadaan dirinya, perasaan tentang diri sendiri mulai muncul. Dia mulai bisa mengorganisir emosi dan mengatur perilakunya, menunjukkan emosi dan niatnya secara lebih jelas dalam perilaku. Secara intelektual ia jadi semakin pintar, paham tentang lingkungan, dan semakin jelas melihat dirinya sendiri. 
Komunikasi masih dominan praverbal, namun dia semakin mampu melakukan interaksi kompleks dengan orang lain dalam rangka 'pemecahan masalah' (problem solving) yaitu berupaya agar orang lain menolong dia mencapai keinginannya. Pada masa ini, dia bisa menerima informasi dengan lebih baik, memahami pola-pola, kebiasaan-kebiasaan di lingkungan sekitarnya, sehingga dia bisa memperkirakan, membuat prediksi, dan ini semua membuat dia mengembangkan perasaan mampu (sense of mastery). Pemahamannya terhadap emosi orang lain juga lebih tajam, dia bisa membedakan emosi-emosi orang lain secara intuitif, persetujuan atau ketidaksetujuan, penerimaan atau penolakan. 

Tahap kelima (18-36 bulan), bayi mampu membentuk gambar ide. Dia bisa membentuk gambar imajinasi objek-objek dalam kepalanya, membedakan antara pikiran dengan tindakan. Pada masa ini dia belajar tentang fungsi kata-kata, yaitu bahwa kata-kata merepresentasikan sesuatu, baik objek nyata (benda konkrit) maupun perasaan, bahwa kata-kata bisa digunakan untuk menyampaikan perasaan. Dia belajar bahwa menunjukkan perasaan kepada orang lain tidak hanya bisa dilakukan dengan tindakan (misal : melempar barang), tetapi juga bisa ditunjukkan dengan berbicara "Aku marah." Kemampuannya membedakan emosi masih kasar, masih terkutub-kutub ekstrim, sayang-benci, senang-marah.

Tahap keenam (30-48 bulan), bayi mampu membentuk hubungan antara ide-ide. Bayi mulai mampu berpikir logis, menghubungkan satu hal dengan hal lain dalam hubungan sebab-akibat. Kemampuannya membedakan emosi juga menjadi semakin tajam, misalnya bisa membedakan antara sedikit kecewa dengan sangat marah. Dia juga bisa membedakan antara fantasi dengan realita, mana yang merupakan imajinasinya saja dan mana yang sungguh-sungguh realita. 



Dalam perkembangan emosional, yang menjadi kunci kesuksesan perkembangan adalah interaksi emosional bayi dengan pengasuhnya. Bayi belajar melalui tiap interaksi yang terjadi dengan pengasuhnya. Respon yang ditunjukkan pengasuh membuat bayi belajar berbagai hal tentang perasaan-perasaannya dan perilakunya sendiri.
Jika kita melihat lebih seksama keempat tahap di atas, menjadi jelas bahwa ketika bayi tidak mendapat stimulasi yang sesuai dengan kebutuhannya pada 18 bulan pertama kehidupannya itu, akan terjadi hambatan perkembangan, perkembangan emosionalnya menjadi mundur dari waktu yang seharusnya. Tahap perkembangan itu tidak bisa diloncati, sehingga ketika satu tahap gagal distimulasi secara optimal, maka ia tidak mampu menuju ke tahap perkembangan selanjutnya. 

Berikut adalah contoh bagaimana terjadinya sesuatu yang 'salah' dalam perkembangan anak dideteksi berdasarkan tahap perkembangan emosionalnya:

Pada umur 15 bulan, seorang anak cenderung menunjukkan emosi negatif daripada emosi positif, ia lebih senang bermain sendiri dan kurang menunjukkan minat untuk berinteraksi dengan orang lain (kurang menunjukkan rasa bahagia ketika bersama orang lain). Apa yang menyebabkan bayi ini emosinya lebih terarah pada emosi negatif (suka marah, menolak, agresif) dan tidak ceria, adalah kurangnya pengalaman dekat secara emosional kepada pengasuhnya. Ketika anak ini kemudian akhirnya mampu ditarik dalam sebuah relasi (dengan cara orangtuanya menyediakan diri untuk menemaninya lebih sungguh-sungguh, memberikan perhatian secara konsisten), dia mengalami emosi-emosi yang muncul ketika dua orang menjadi akrab (intim), yaitu perasaan gembira, bahagia, bersemangat, dan rasa ingin tahu, dan demikian area emosinya pun berkembang, menjadi tidak hanya terbatas pada emosi negatif, melainkan lebih luas, yaitu menuju emosi-emosi positif tersebut.  

Pada umur 12-13 bulan, bayi semestinya sudah mulai menunjukkan sifat-sifat kepribadian dasarnya yang unik. Akan tetapi, beberapa bayi sangat patuh, dia selalu mengikuti kemauan orangtuanya; dan sebaliknya, sebagian bayi menyatakan dirinya dengan cara yang selalu melawan kehendak orangtuanya. Kedua jenis ini, yaitu sangat patuh, atau sangat negatif (sangat melawan), menunjukkan bahwa bayi tidak berkembang sebagaimana mestinya. Di sini, orangtua harus balik ke tahap perkembangan sebelumnya, yaitu menyediakan kehangatan dan cinta secara konsisten, dan memberikan dukungan terhadap inisiatif-inisiatif yang dimunculkan bayi. 

Keenam tahap perkembangan emosional yang dikemukakan Greenspan ini telah diterima dan dijadikan acuan oleh dunia psikiatri Amerika. Buku "First Feelings" ini menjadi sebuah pembuktian bahwa pengasuhan anak bukan sesuatu yang main-main, bahwa menyediakan kebutuhan emosional anak adalah sesuatu yang mutlak jika kita menginginkan sebuah perkembangan yang optimal. Hanya dua pilihan kita : menyediakan kebutuhan emosional anak, atau meremehkannya dan dengan demikian membuka tangan terhadap RISIKO kecacatan emosional anak-anak kita. 

Rabu, 30 Oktober 2013

Pelajaran Berharga Untukku (Surat utk Sahabat)

Surat ini kutujukan untuk sahabat-sahabatku, para ibu yang sehari-hari menunggui anak-anaknya di sekolah bersamaku.

Bertemu dengan kalian telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Dulu, aku menganggap bahwa menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah profesi yang bergengsi, dan karenanya, aku sering minder ketika orang menanyakan apa pekerjaanku. Aku menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan bagaimana terpaksanya aku menjadi ibu rumah tangga, yaitu karena tak ada orang lain yang bisa dititipi untuk mengasuh dan merawat anakku, dan bahwa anakku sangat lekat padaku sehingga memang tak bisa ditinggalkan ke tangan orang lain – sekalipun menjadi ibu rumah tangga memang merupakan pilihanku sendiri, tapi aku merasa aneh dengan pilihanku itu. Tapi, sekarang, aku bisa dengan gampang menjawab sambil tertawa, “Sekarang saya cuma di rumah, momong anak,” tiap kali ada orang yang menanyakan pekerjaanku.

Melihat keceriaan kalian, kesederhanaan kalian, telah mengubah pandanganku. Kalianlah yang mengajariku untuk menerima peran ini dengan rendah hati. Kalianlah yang mengajariku, “Hei, di dunia ini kau tak harus menjadi seorang yang sukses, yang terkenal, yang disegani banyak orang. Kita nikmati hidup seadanya ini dan menjadi bahagia dengan apa yang kita miliki saat ini.”

Kalian bukanlah wanita-wanita kaya yang hidup mewah dari gaji suami, sebagaimana dibayangkan oleh banyak orang. Kalian bahkan tak punya pembantu, malah mesin cuci pun tidak, sehingga harus mencuci baju dengan tangan setiap hari. Kalian juga tak naik mobil pribadi untuk mengantar anak ke sekolah, tetapi hanya naik sepeda motor, atau angkot, atau ojek. Kalau kita saling bercerita, kita bercerita tentang bagaimana kita selalu membanding-bandingkan harga hanya untuk mendapatkan barang yang termurah, agar kita bisa menghemat uang kita, meski hanya 500 rupiah saja.

Kalian juga bukan ibu-ibu yang suka ‘ngerumpi’ tentang kejelekan orang lain. Kita menjalin persahabatan, selalu berusaha berkomunikasi baik-baik, menjaga perasaan satu sama lain. Kalau kita saling bercerita, kita tak ingin mengorek kehidupan pribadi orang lain, tapi menceritakan sendiri tentang kehidupan diri kita masing-masing,  berkeluh-kesah tentang betapa lelahnya kita sehari-hari mengurus anak dan rumah, betapa jengkelnya kalau anak kita tak mau makan, betapa sedihnya kalau melihat anak kita sedang sakit, atau bagaimana kita bingung kalau anak kita nangis-nangis di sekolah. Semuanya adalah curhat tentang pengalaman kita masing-masing. Membicarakan kehidupan orang lain... untuk apa? Kita sama sekali tak berminat.

Kalian juga bukan ibu-ibu pengangguran yang selalu sibuk dengan handphone, yang sebentar-sebentar mengecek pesan masuk, atau asik membuat status. Bahkan kalian tidak setiap hari membuka internet, online di facebook. Bukan karena kalian terlalu bodoh, tak bisa mengoperasikan komputer atau tidak mahir menggunakan fasilitas komunikasi modern ini, tapi karena kalian tidak memandang penting komunikasi dunia maya semacam ini. Kalian adalah wanita-wanita pintar dan terpelajar, yang tak kalah pendidikannya daripada para wanita karir. Kita saling terkejut bila mengetahui latar belakang pendidikan kita, bahwa ternyata kita semua adalah sarjana. Kita memang tak nampak seperti wanita-wanita intelek, karena sehari-hari kita berpakaian seadanya, berbicara tentang hal-hal yang sederhana, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana.

Bisa menjadi sahabat kalian, adalah sebuah anugerah luar biasa bagiku. Aku belajar apa itu arti menjadi sederhana, belajar membiarkan diri mundur dari dunia yang penuh persaingan, belajar menghargai kesenangan-kesenangan kecil dari hidup ini, belajar tentang pengorbanan, belajar tentang ketulusan. Kalian bukan guru, bukan juga profesional, tapi aku belajar banyak dari kalian. Kalian mengajariku bagaimana menjadi tangguh, hidup penuh perjuangan dan pengorbanan tanpa sering mengeluh.

Kalian mengajariku, bahwa mengasihi adalah dari hati. Berbagi, adalah berbagi perhatian, berbagi dukungan. Memberi, tak harus ketika kita mempunyai materi yang berlimpah untuk diberikan. Hari itu, engkau memberiku dua sachet kopi instan yang baru saja beredar di pasaran. Hari berikutnya, kau memberiku pastel mini homemade buatanmu sendiri. Suatu hari, kau memberiku buah kersen yang kau petik dari pohon di sekolah, tiga butir buah kersen yang merah, “Ini enak, ayo ambil.. Yang dua ini titip buat mamanya Felix dan mamanya Yesaya ya, kalo nanti ketemu.”

Yah, aku sungguh beruntung bisa bertemu dengan kalian, sahabat-sahabatku yang begitu sederhana, begitu tulus. Belajar banyak hal dari kalian, aku menjadi lebih bahagia, dan lebih kuat. Doaku untuk kalian, semoga Tuhan selalu memberi kalian kesehatan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia ini bersama anak-anak yang begitu kalian cintai. Tetaplah jaga kemurnian hati kalian ini, karena kalianlah yang membuat dunia ini lebih indah untuk ditinggali. Kalian begitu anggun, dengan mengenakan kesederhanaan itu. Aku bangga pada kalian, sungguh bangga, dan aku bangga menjadi bagian dari kelompok kalian. Semua yang telah kupelajari dari kalian ini akan menjadi pelajaran berharga seumur hidupku. 

Minggu, 27 Oktober 2013

Jika Tak Ada Kasih Sayang yang Cukup ...

Para ahli yang peduli terhadap anak (di antaranya Stanley I. Greenspan, M.D., Steve Biddulph), menandaskan bahwa kasih sayang adalah nutrisi vital untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Seorang anak menjadi terganggu perkembangannya, baik perkembangan emosional, sosial, maupun intelektual dan fisik, jika ia tidak dirawat oleh seseorang yang mengayomi dan mencukupi kebutuhannya akan cinta kasih. Jalan satu-satunya untuk membangun mental yang sehat, dan demikian membentuk pula perilaku yang sehat, adalah dengan mencukupi kebutuhan anak akan sebuah pengasuhan, perawatan, dan pengayoman yang penuh cinta pada tahun-tahun pertama kehidupan anak.
Dalam bukunya "The Challenging Child," Stanley I. Greenspan, M.D., membahas bahwa pengasuhan/perawatan yang kurang kasih sayang berisiko pada terjadinya masalah perilaku pada anak, antara lain perilaku agresif (suka menyakiti orang lain), manja (suka menuntut dan rakus), ketidakmampuan mengasihi orang lain, ketidakmampuan berempati, sikap apatis, perilaku menarik diri, dan perilaku merusak-diri.

"Kekurangan pengayoman (perawatan dgn cinta kasih) bisa mengarah pada perilaku agresif pada siapapun - baik anak yang sensation-seeking (karakter fisiknya mencari sensasi indra), maupun yang bukan. Anak yang aktif dan sensation-seeking memang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengalami pola perilaku agresif ini. Sementara anak lain yang kurang kasih sayang akan cenderung menunjukkan trauma ini dalam cara yang lain, yaitu sikap apatis dan menarik diri atau perilaku yang merusak-diri.
Proses pembentukan kelekatan kepada seseorang (attachment) - yang semestinya dimulai saat masa bayi dan berlanjut selama masa kanak-kanak - adalah fondasi esensial bagi perkembangan rasa kemanusiaan, sebuah perasaan penuh kasih, dan perhatian/kepedulian untuk orang lain. Tanpa adanya kontak cinta di masa bayi dan awal masa kanak-kanak, rasa keterkaitan dengan sesama mungkin selamanya tidak akan terbentuk. Anak akan melihat orang lain sebagai benda untuk disepak atau dimusnahkan ketika mereka menghalangi jalan. Mereka tidak bisa peduli kepada orang lain karena tidak ada seseorang yang secara konsisten peduli kepada mereka."

Lack of nurturing can lead to aggressive behavior in any child - whether or not he is sensation-seeking. The active, sensation-seeking child simply has a greater likelihood of such a pattern. Other children who are deprived of love are more likely to show their trauma in other ways, such as apathy and withdrawal or self-destructive behavior.
The process of forming an attachment to someone - which should begin in infancy and continue throughout childhood - is an essential foundation for developing a sense of shared humanity, a feeling of compassion, and concern for others. Without loving contact in infancy and early childhood, a sense of human connectedness may never materialize. The child may view other people as things to be kicked or destroyed when they stand in the way. They can't care for others because no one has consistently cared for them. (p. 238-239,242)


Pada bagian yang lain dalam buku tersebut, Stanley I. Greenspan juga mengatakan bahwa apabila anak tidak mendapatkan pengayoman dan cinta kasih yang cukup, dia akan menjadi suka menuntut dan rakus, karena dia terus-menerus merasa lapar.

"Perilaku manja sering terjadi ketika anak merasa tidak aman : Jika tidak ada pengayoman dan kasih sayang yang cukup, anak menjadi suka menuntut dan rakus, ugal-ugalan (tidak bertindak dgn pertimbangan) dan agresif, karena dia 'merasa lapar'."

Spoiled behavior often persists when the child feels insecure : if there is not enough nurturing, the child becomes demanding and greedy, inconsiderate and aggressive because he is hungry for more (p. 159).

Rabu, 21 Agustus 2013

Makna di Balik Pekerjaan Sederhana

Tiga orang tukang bangunan sedang bekerja pada sebuah proyek. Mereka yang sedang menyusun batu-batu bata dengan semen ditanya oleh seorang anak kecil yang lewat, "Apa yang sedang Bapak lakukan?" Berikut adalah jawaban mereka.
Tukang 1 : "Bapak sedang menumpuk batu-batu bata ini."
Tukang 2 : "Bapak sedang mencari uang."
Tukang 3 : "Bapak sedang membangun sebuah rumah, di mana nanti rumah ini akan menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi pemiliknya, tempat mereka beristirahat dan melepas lelah."

Apa beda ketiga jawaban tersebut? Semua jawaban benar. Akan tetapi, masing-masing jawaban mencerminkan bagaimana tukang bangunan itu menyikapi dan memandang pekerjaannya. Tukang 1 hanya melihat pekerjaannya sebagai sebuah rutinitas. Tukang 2 melihat pekerjaannya secara pragmatis, yaitu sebagai sebuah cara menghasilkan uang. Sementara tukang 3, sungguh-sungguh menjalani pekerjaannya dengan sebuah visi. Tentu kita tahu bahwa visi semacam itu jelas menjadikan tukang tersebut lebih termotivasi dan bergembira dalam menjalani pekerjaannya dibandingkan dengan kedua tukang yang lain.

Hal serupa kita alami dalam menjalani peran kita sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaan yang sehari-hari kita lakukan nampak sebagai tugas-tugas yang sepele. Menanak nasi, mengupas bawang, memetik sayur, memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, memandikan anak, menyuapi anak, membereskan mainan anak, merapikan barang-barang yang diberantakkan anak, mengelap air minum yang ditumpahkan anak, mengelem mainan anak yang patah, mendorong anak berayun di ayunan, menemani main boneka, menemani anak jalan-jalan melihat sungai dan bebek... bukankah semuanya tugas yang sepele? Begitu sepele sampai kita pun sering berpikir, "Bukankah semua itu sebenarnya cukup dikerjakan oleh seorang pembantu saja?" atau, "Adakah bedanya, jika itu aku kerjakan sendiri, dan jika itu dikerjakan oleh pembantu?" Sulit bagi kita untuk selalu menyadari bahwa lewat tugas-tugas sepele itu lah kita sedang mengerjakan sebuah tugas besar, yaitu mendidik dan membentuk pribadi anak kita.
Sama seperti seorang tukang bangunan yang memulai pekerjaan membangun sebuah rumah hanya dari aktivitas mengayak pasir, mencampur semen, menata batu bata satu demi satu, atau seorang penyulam yang membuat suatu sulaman nan indah dengan cara menjahitkan benang helai demi helai, kita sedang mengerjakan sebuah proyek pembentukan pribadi lewat aktivitas-aktivitas sederhana yang terjadi saat memelihara, mendampingi, dan mengayomi anak. Tak ada jalan lain. Itulah jalan yang mesti ditempuh. Kenyataannya, lewat semua yang nampak sederhana itulah terjadi sebuah proses. Anak kita tidak berkembang secara tiba-tiba, dan proses perkembangannya sebagai seorang individu bukan merupakan sesuatu yang instan. Stanley I. Greenspan menyatakan, bahwa interaksi emosional yang terjadi sehari-hari antara ibu dan anak itulah yang sesungguhnya merupakan proses pembentukan diri anak, baik segi emosional, moral maupun intelektual dan kreativitasnya. Jadi, marilah mulai dari sekarang, kita selalu memandang ke depan, meyakini bahwa hal-hal sederhana dan sepele yang nampak tak berarti ini sesungguhnya adalah langkah-langkah, tapak-tapak menuju apa yang kita harapkan. Sekarang, kalau pertanyaan seperti di atas kita lontarkan pada diri kita, "Apa yang sedang kulakukan?" kita akan jawab, "Aku sedang mendampingi anakku, mengayomi keluargaku, melingkupi mereka dengan cinta kasih, agar mereka bahagia. Aku sedang merajut relasi yang baik dengan anak-anakku, supaya aku bisa mengarahkan dan mendidik mereka menjadi pribadi yang baik." 

Minggu, 04 Agustus 2013

Anak dan Materialisme

Menjalani peran ibu rumah tangga, bagi kita itu berarti tiap hari kita mesti berjuang mematikan nafsu kita untuk memupuk harta atau kekayaan materi. Kita belajar untuk memalingkan tujuan hidup kita bukan ke arah kemakmuran finansial, melainkan ke arah nilai-nilai lain dalam hidup ini. Tentu saja bukan sebuah perjuangan yang mudah, mengingat uang adalah sarana untuk mencapai kenyamanan hidup di dunia ini. Dan perjuangan pun semakin berat karena dunia tempat tinggal kita ini semakin hari semakin materialistis, mengagungkan kesejahteraan ekonomi di atas segalanya.
Apa ada yang salah dengan sifat materialistis? Kesadaran akan pentingnya benda-benda sebagai pemberi kenyamanan hidup bukan hal yang salah. Akan tetapi, yang kurang tepat adalah ketika benda dipandang sebagai sumber kebahagiaan yang utama. Kita semua tahu ada hal-hal lain yang lebih penting daripada sekedar materi yang dapat memberikan kebahagiaan. Dan karenanya, kita tidak ingin sifat materialistis itu menguasai diri kita, begitu pula anak-anak kita.
Ada sebuah hasil penelitian menarik mengenai dampak pada anak apabila orangtua mencukupi kebutuhan anak akan kasih sayang dan dukungan emosional, yaitu anak menjadi lebih tahan terhadap dorongan materialisme. Sementara ketika orangtua gagal mencukupi kebutuhan anak akan kasih sayang dan dukungan emosional, anak lebih rentan terpengaruh materialisme.
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Suzanna Opree dengan subjek anak usia 8-10 tahun mendapati hasil bahwa anak-anak yang kurang bahagia menghabiskan waktu di depan televisi hampir sama dengan anak-anak yang bahagia. Akan tetapi, anak-anak yang kurang bahagia ini lebih terpengaruh oleh iklan televisi yang menjadikan mereka lebih bersifat materialistis, yaitu lebih asyik dengan benda-benda dan percaya bahwa benda bisa memberikan kebahagiaan dan kesuksesan. (Sumber : http://health.usnews.com/health-news/news/articles/2012/08/21/unhappy-kids-are-more-materialistic-study-finds )
Senada dengan itu, penelitian yang dilakukan oleh Chaplin, Lan Nguyen, John, dan Deborah Roedder dengan subjek remaja usia belasan tahun menunjukkan bahwa semakin orangtua suportif (memberikan dukungan emosional kepada anak), anak mereka semakin cenderung tidak materialistis. Alasannya adalah karena orangtua yang bersikap suportif kepada anaknya membuat anaknya mengembangkan harga diri lebih tinggi (mempunyai perasaan berharga) -sementara sifat materialistis dilatarbelakangi oleh harga diri yang rendah (self-esteem yang rendah). Semakin anak merasa berharga (mempunyai self-esteem tinggi), semakin dia tidak memandang bahwa kepemilikan barang akan membawa kebahagiaan dan perasaan berharga. Sebaliknya, anak-anak yang merasa tidak berharga, akan cenderung berusaha memiliki barang-barang dalam rangka membuat hidupnya bahagia dan untuk membuat dirinya merasa berharga. Sebagai tambahan, para peneliti juga menemukan bahwa semakin orangtua bersifat materialistis, anak-anak mereka mempunyai harga diri yang semakin rendah.
(Sumber : http://tweenparenting.about.com/od/behaviordiscipline/a/Materialistic-Children.htm )

Jumat, 12 Juli 2013

Seorang Ibu Mengubah Dunia Lebih Baik

"Hanya seorang ibu," begitulah yang kita pikirkan mengenai diri kita, atau itulah jawaban yang kita berikan ketika orang bertanya apa pekerjaan kita. Di dalam masyarakat yang makin kurang menghargai peran ibu sebagai pengasuh dan pengayom anak, kita juga mulai berpikir bahwa diri kita ini bukanlah apa-apa, selain seorang ibu yang sehari-hari mengurus rumah tangga, menyediakan kebutuhan anak dan suami. Hidup melulu di rumah, rasanya kita tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada dunia. Saya mempunyai seorang teman, ia memilih untuk menekuni karirnya mendampingi anak-anak korban kekerasan dan perdagangan anak, tapi sementara itu, ia meninggalkan anaknya yang masih berusia 1 tahun dalam asuhan orang lain. Ia merasa hidupnya berguna bagi orang lain dengan pekerjaan itu, dan memandang bahwa mengesampingkan keluarganya sendiri merupakan harga yang harus dibayar demi sebuah pengorbanan bagi orang lain.
Haus untuk memberikan kebaikan bagi orang lain, seringkali juga kita rasakan, dan menjadi salah satu tantangan dalam menjalani peran ibu rumah tangga. Akan tetapi, sebenarnya, kalau kita merefleksi, bukankah apa yang sedang kita kerjakan saat ini, yaitu membesarkan anak-anak kita adalah bagian dari perjalanan panjang untuk mempengaruhi dunia? Ya, sesungguhnya dengan membesarkan anak-anak kita, mendidik mereka, kita sedang menyiapkan diri mereka agar kelak mereka menjadi salah satu orang baik yang mengisi dunia ini dan mengubah dunia ini menjadi lebih baik pula.
Brenda Hunter, Ph.D., dalam bukunya "The Power of Mother Love," membahas bahwa menjadi ibu rumah tangga, memiliki pengaruh luar biasa, bukan hanya terhadap hidup anak-anak kita, tapi sesungguhnya juga terhadap masyarakat, yang mana seringkali pengaruh ini memang tidak disadari. Selama dekade terakhir ini, dunia psikologi terus melakukan penelitian ilmiah dan ternyata mendapati bukti-bukti yang begitu banyak bahwa cinta seorang ibu mempunyai dampak begitu besar dan sifatnya permanen dalam membentuk karakter dan hidup anaknya. Kasih ibu mempengaruhi hidup anak, dan selanjutnya, mempengaruhi dunia.


Brenda Hunter menandaskan bahwa dengan memenuhi kebutuhan anak pada tahun-tahun pertama kehidupannya (kebutuhan fisik maupun psikologis), kita sedang membentuk anak kita menjadi seorang yang mampu berempati kepada sesamanya. Seorang anak yang tidak mengalami kasih sayang, tak akan mampu memperlakukan orang lain dengan kasih sayang pula. "Mother-child emotional bonding" (ikatan emosional ibu-anak) adalah ramuan ajaibnya. Jadi, seorang ibu tak hanya mempengaruhi hidup anaknya, ia mempengaruhi masyarakat, mempengaruhi dunia.